Tumbuh Kembang Anak

Tumbuh Kembang Anak

Share

Tumbuh Kembang Anak adalah wadah untuk berbagi pengalaman mengasuh si Kecil. Berbagi itu indah, Bund

03/02/2022

Jual Rumah Pesan Bangun Eksklusif 2 lantai
Lokasi Utara waduk Lalung
Mangku Jalan Lingkar selatan
2 menit barat SPBU Lalung Karanganyar
Promo Launching mulai 249 juta
Tersedia pilihan type :
2 lantai type 40/77
2 lantai type 50/77

Harga mulai 249 juta
Minat dan cek lokasi
Wa.me/properti

01/04/2021

Penyebab ASI Encer dan Cara Mengatasinya

Banyak ibu yang merasa khawatir saat mendapati ASI yang dikeluarkannya lebih encer dari biasanya. Apakah Anda termasuk yang mengalami hal ini? Jika iya, yuk, kenali apa penyebab ASI encer serta cara mengatasinya.

Kekhawatiran ibu menyusui terhadap ASI encer mungkin muncul karena anggapan bahwa ASI encer memiliki nutrisi yang rendah. Padahal, bukan itu yang menjadi tolak ukur dari kandungan nutrisi ASI. Tekstur encer atau kentalnya ASI tidak dipengaruhi oleh kualitas nutrisi di dalamnya.

Penyebab ASI Encer
Penyebab ASI encer adalah karena kandungan lemak di dalamnya lebih sedikit. Walaupun kerap membuat ibu menyusui khawatir, munculnya ASI encer pada awal menyusui sebenarnya lumrah terjadi. ASI awal ini disebut foremilk.

Seiring bertambahnya kadar lemak di dalam ASI, tekstur ASI yang encer ini secara perlahan akan semakin mengental. Perubahan tekstur ini akan makin cepat terlihat saat Anda semakin sering menyusui.

Meskipun ASI encer memiliki kandungan lemak yang lebih rendah, sebenarnya Anda tidak perlu khawatir, karena ASI encer tetap berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Cara Mengatasi ASI Encer
Seperti telah dijelaskan di atas, ASI encer adalah hal yang normal terjadi, khususnya di awal masa menyusui. Yang terpenting adalah ASI encer yang keluar tetap berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan nutrisi Si Kecil.

Namun jika Anda merasa khawatir dan ingin membuat ASI Anda lebih kental, cobalah untuk lebih sering menyusui Si Kecil. Semakin sering Anda menyusui, biasanya konsistensi dan produksi ASI Anda juga akan semakin baik.

Selain itu, Anda juga perlu melakukan beberapa cara berikut ini untuk menjaga kualitas ASI:

1. Mengonsumsi makanan bergizi
Pastikan makanan yang Anda konsumsi mengandung nutrisi yang lengkap dan bergizi seimbang. Konsumsilah makanan yang tinggi protein, vitamin, dan serat. Beberapa contoh makanan yang disarankan adalah susu, daging yang dimasak hingga matang, sayur, dan buah.

2. Mengonsumsi air putih yang cukup
Tak hanya mengonsumsi makanan bergizi, Anda juga disarankan untuk mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih sebanyak 8 gelas atau 2½ liter per hari selama menyusui. Hal ini karena produksi ASI dapat menurun jika tubuh tidak terhidrasi dengan baik.

3. Mencukupi kebutuhan tidur
Istirahat merupakan bagian yang penting dalam menjaga kestabilan produksi ASI. Jadi, pastikan waktu tidur Anda tercukupi dengan baik.

4. Mengelola stres dengan baik
Meski tidak mengurangi produksi ASI secara langsung, stres diduga dapat menghambat keluarnya ASI. Jadi, agar ASI bisa keluar dengan lancar dan asupan ASI untuk bayi bisa tercukupi, Anda perlu mengelola stres dengan baik.

Jangan panik jika pada awal pemberian ASI, ASI Anda terlihat encer, karena yang terpenting adalah Si Kecil mendapatkan ASI yang cukup. Namun bila Anda masih merasa khawatir dan memiliki keluhan seputar pemberian ASI dan proses menyusui, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

Terakhir diperbarui: 20 September 2019
Ditinjau oleh : dr. Merry Dame Cristy Pane
Referensi
Nielsen, S. D., Beverly, R. L., & Dallas, D. C. (2017). Peptides Released from Foremilk and Hindmilk Proteins by Breast Milk Proteases Are Highly Similar. Frontiers in Nutrition, 2;4:54.
Healthy Children. American Academy of Pediatrics. Transitional Milk and Mature Milk.
American Pregnancy Association (2019). Breastfeeding: Overview.
Mayo Clinic (2018). Breast-feeding nutrition: Tips for moms.
Nall, R. Healthline (2016). Does My Breast-Fed Baby Have a Foremilk and Hindmilk Imbalance?
Murray, D. Very Well Family (2019). Breast Milk Answers to the Common Questions.
WebMD (2018). Breastfeeding: How to Increase Your Milk Supply.

Sumber :alodokter
Artikel Terkait lainnya bisa dilihat beranda Zaliya

30/03/2021

Pertolongan Pertama Mengatasi Sawan pada Anak

Sawan dipercaya masyarakat sebagai gejala rewel, kejang-kejang dan demam pasa anak yang disebabkan oleh terlanggarnya berbagai mitos yang mungkin dilakukan oleh sang ibu.

Sebenarnya apa itu sawan?
Sawan adalah kondisi anak atau balita yang mendadak mengalami perubahan perilaku yang tidak seperti biasanya atau mendadak sakit, yang terjadi tanpa alasan yang jelas dan dikaitkan dengan hal mistis.

Penyebab Anak Sawan
Penyebab anak sawan bisa jadi karena si ibu makan kambing saat menyusui, ibu dan bayi menghadiri acara pernikahan atau pemakaman, atau karena ibu mengonsumsi makanan yang pedas.

Apapun penyebabnya, kondisi bayi atau anak yang sedang sawan sangat mengkhawatirkan. Demam tinggi hingga kejang-kejang pada bayi bisa merusak otaknya. Anak yang terkena sawan atau lebih tepatnya kejang berhubungan dengan aliran elektrik dalam tubuhnya.

Aliran elektrik ini terlepas secara tidak normal di dalam otak anak dan mengakibatkan terjadinya guncangan pada anak. Anak yang sedang sawan parah bahkan bisa sampai menggeliat-geliat di lantai, bola matanya bergerak ke atas, mulutnya berbusa, lidahnya tergigit dan kehilangan kesadaran sejenak. Gejalanya sangat mirip dengan epilepsi.

Mengatasi Anak Sawan
Berikut beberapa cara memberikan pertolongan pada anak yang sedang mengalami sawan:

1. Membaringkan anak dengan aman di atas lantai dengan posisi telungkup atau miring, agar lidahnya menjulur ke depan dan lendir bisa mengalir keluar, sehingga tidak menghalangi masuknya oksigen ke dalam tubuh.
2. Jangan memberikan makanan atau minum selama anak sawan.
3. Jangan cemas jika bibir anak tidak berwarna biru dan anak masih bisa bernapas dengan normal.
Bila bibir anak berubah menjadi biru atau sesak napas, berikan napas buatan dari mulut ke mulut setelah saluran udaranya dibersihkan.
4. Singkirkan barang-barang yang berbahaya jika anak masih menggeliat di lantai.
5. Jika panas anak tetap tinggi, bukalah bajunya dan gosokkan badannya dengan menggunakan handuk yang dingin untuk mengurangi temperatur yang meningkat secara tiba-tiba. Karena demam yang semakin parah bisa mengakibatkan lebih banyak serangan tiba-tiba.
Setelah mengalami penyakit sawan, anak biasanya tenang kembali dan dapat tidur dengan nyenyak. Jika sawan terjadi akibat demam yang tinggi, maka perhatikan temperaturnya dengan seksama agar sawan tidak terulang kembali dan berilah obat penurun demam. Jagalah agar demam anak tetap terkendali dan segera ke rumah sakit jika demam tidak turun setelah beberapa jam.

Sumber : Terbit: 10 Juli 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

28/03/2021

Tips Menjaga Kebersihan Peralatan MPASI agar Tetap Higenis

Selain memilih menu MPASI yang tepat, kebersihan peralatan MPASI juga tak boleh luput dari perhatian Bunda. Jika ini terabaikan, MPASI bisa saja terkontaminasi virus dan bakteri yang dapat membuat Si Kecil sakit. Cari tahu tips menjaga kebersihan alat-alat MPASI di sini, yuk, Bun!

Bayi lebih rentan terpapar berbagai penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya belum bekerja seoptimal orang dewasa. Jika bayi sering terkena infeksi, tumbuh kembangnya bisa terganggu. Inilah alasan mengapa kebersihan tubuh dan perlengkapan bayi, termasuk peralatan MPASI-nya, harus selalu dijaga dengan baik.

Cara Menjaga Kebersihan Peralatan MPASI
Kontaminasi bakteri virus atau bakteri pada makanan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pada bayi, mulai dari sariawan, muntah, hingga diare. Untuk mencegah Si Kecil mengalami kondisi tersebut, mari terapkan cara menjaga kebersihan peralatan MPASI berikut ini:

1. Cuci tangan sebelum menyentuh peralatan MPASI
Pastikan tangan Bunda dalam kondisi bersih sebelum menyentuh dan membersihkan peralatan MPASI. Cara ini sangat penting dilakukan untuk mencegah perpindahan kuman dan bakteri dari tangan Bunda ke alat makan Si Kecil. Cucilah tangan dengan air mengalir dan sabun selama 20 detik.

2. Gunakan sabun cuci piring khusus bayi
Jangan gunakan sabun cuci piring yang terbuat dari bahan kimia keras atau mengandung pemutih karena dapat membuat alat MPASI terkelupas dan rusak.

Bunda disarankan untuk menggunakan sabun cuci yang khusus diformulasikan untuk membersihkan alat makan bayi. Kandungan pada sabun cuci ini lebih lembut dibandingkan dengan sabun cuci piring biasa.

3. Gunakan spons atau sikat khusus
Sebaiknya spons atau sikat untuk mencuci alat MPASI dipisah dengan peralatan lain, Bun. Hal ini dilakukan supaya bakteri dari alat makan lainnya tidak berpindah ke peralatan MPASI. Selain itu, segera cuci alat MPASI setelah digunakan dan jangan ditumpuk dengan peralatan kotor lainnya, ya.

4. Sterilkan peralatan MPASI
Bunda tidak perlu selalu menstrerilisasi peralatan MPASI setiap selesai menggunakannya, karena sterilisasi yang terlalu sering justru dapat merusak permukaan alat MPASI.

Sterilisasi hanya diperlukan jika alat MPASI baru saja dibeli atau bekas dipakai bayi lain. Namun, sterilisasi bisa dilakukan 1 kali sehari jika Si Kecil sedang sakit atau memiliki sistem imun yang lemah.

Mensterilkan alat MPASI bisa dilakukan dengan cara merendamnya pada wadah berisi air panas yang telah mendidih. Jangan campurkan air dengan sabun apa pun karena dapat mengikis permukaan alat MPASI.

Gunakanlah air yang telah difilter dan hindari penggunaan air keran karena dikhawatirkan mengendung endapan mineral yang mungkin bisa merusak peralatan MPASI.

Pertama-tama, panaskan air di atas kompor sampai benar-benar mendidih. Untuk alat yang berbahan plastik, kaca, atau logam, sterilkan pada air mendidih dengan keadaan api sudah mati. Jika api masih menyala, dikhawatirkan peralatan MPASI menyentuh dasar panci yang sangat panas, kemudian rusak atau meleleh.

Alat MPASI yang berbahan stainless steel bisa disterilkan di atas air mendidih dengan keadaan api masih menyala selama 10 menit. Setelah itu, tutup wadah dan biarkan hingga air menjadi dingin.

Jika ingin yang lebih praktis dan terjamin kebersihannya, Bunda bisa menggunakan alat sterilizer. Selain peralatan MPASI, alat ini juga dapat mensterilkan botol susu atau mainan bayi.

5. Keringkan dan simpan peralatan MPASI di tempat kedap udara
Setelah dicuci bersih atau disterilkan, keringkan peralatan MPASI menggunakan tisu atau dengan membiarkannya saja sampai mengering sendiri. Hindari penggunaan lap atau handuk piring yang dipakai berulang kali karena bisa menyebabkan kontaminasi bakteri maupun virus.

Simpan peralatan MPASI pada wadah tertutup dan dipisah dengan alat makan lainnya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar alat-alat MPASI selalu bersih dan tidak terkontaminasi oleh debu maupun kotoran yang bisa menempel dari udara di sekitarnya.

Ketika mencuci peralatan MPASI, periksalah seluruh permukaannya dan pastikan tidak ada yang pecah atau rusak. Selain dapat melukai Si Kecil, alat MPASI yang rusak merupakan tempat yang lebih ideal untuk bakteri berkembang biak. Jadi, jika ada peralatan MPASI yang rusak, sebaiknya ganti dengan yang baru ya, Bun.

Menjaga kebersihan peralatan MPASI bisa menjadi salah satu cara untuk menghindarkan anak dari penyakit. Oleh karena itu, terapkanlah tips di atas agar kebersihan peralatan MPASI Si Kecil senantiasa terjaga.

Jika Si Kecil memiliki kondisi tertentu yang menyebabkan daya tahan tubuhnya lebih lemah atau mungkin membutuhkan peralatan MPASI khusus, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter terkait cara menjaga kebersihan alat-alat MPASI tersebut.

Terakhir diperbarui: 11 Maret 2021
Ditinjau oleh : dr. Meva Nareza
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention (2020). How to Clean, Sanitize, and Store Infant Feeding Items.
Baby Center India. How Should I Sterilise My Baby's Bottles and Utensils?
Baby Center U.K. Sterilising Bottle-Feeding Equipment.
Raishing Children (2020). Bottle-Feeding: Cleaning and Sterilising Equipment.
Perry, C. The Bump (2020). When and How to Sterilize Baby Bottles.
Sumber : alodokter
Ikuti terus artikel tentang tumbuh kembang anak di Beranda Zaliya 😊

24/03/2021

Halo bunda, ingin sharing sedikit nih tentang obat yang biasanya saya berikan pada si kecil ketika demam.
Tiap bunda mungkin beda cara ngatasi demam pada si kecil. Kalo saya pakai Zaliya Fever Drop. Karena kesan kali pertama gunakan Zaliya Fever Drop pada si kecil, panasnya langsung turun dan sejak itu tidak pindah ke lain hati (kayak lagu) sudah percaya sih 😊
Awalnya saya kira kayak obat2 lainya, tapi ternyata Zaliya Fever Drop beda. Zaliya Fever Drop dibuat dari ekstrak tumbuhan, non kimia dan halal, kandungan zatnya membantu mengaktifkan sistem kekebalan tutuh si kecil, sehingga daya tubuh si kecil tambah kuat. Inilah point - point yang menarik saya. Dan untuk penggunaannya sangat simple, cukup dioleskan disepanjang tulang belakang, area tengkuk dan dilipatan tubuh sambil dipijat lembut.
Alhamdulillah sore saya oleskan, malam harinya panasnya mulai turun. Saya pegang keningnya dan cek pakai termometer bener - benar turun suhunya. Dan malam - malam berikutnya si kecil p**as tidurnya.
Maka sejak itu, kalau si kecil demam saya percayakan pada Zaliya Fever Drop. Jadi Zaliya Fever Drop memang harus selalu tersedia di kotak obat rumah, jadi sewaktu - waktu si kecil panas tinggal pakai. So Zaliya Fever Drop solusi terbaik untuk mengatasi demam si kecil.
Info produk klik aja di sini http://wa.me/6281392629955

23/03/2021

Bagaimana bila Bayi Alami Demam Setelah Imunisasi?

Bayi demam setelah imunisasi merupakan hal yang normal dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Kebanyakan demam setelah imunisasi bisa diatasi di rumah, namun memang ada beberapa keadaan yang mengharuskan anak dibawa ke dokter.

Bayi demam setelah imunisasi memang bisa terjadi pada beberapa imunisasi. Hal ini biasanya muncul setelah anak mendapatkan vaksin-vaksin tertentu, seperti vaksin campak, vaksin DPT dan vaksin meningitis B. Demam setelah imunisasi umumnya muncul 24 jam setelah vaksin diberikan dan berlangsung sekitar 1–2 hari.

Meski beberapa ibu sangat khawatir anaknya akan demam, perlu diketahui bahwa melakukan imunisasi tetap harus dilakukan untuk melindungi anak dari penyakit menular yang jauh lebih berbahaya.

Cara Mengatasi Bayi Demam Setelah Imunisasi
Jika Si Kecil mengalami demam setelah imunisasi, berikut adalah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan:

Memberikan ASI yang cukup
Saat Si Kecil mengalami demam setelah imunisasi, berikan ASI atau susu formula lebih sering. Ini dapat membantu Si Kecil cepat pulih sekaligus mencegah terjadinya dehidrasi.

Memakaikan Si Kecil pakaian yang nyaman
Kenakan Si Kecil pakaian yang nyaman dan ringan. Sebaiknya, hindari memakaikan pakaian yang berlapis-lapis atau menyelimuti Si Kecil dengan selimut yang tebal karena akan menjebak panas di dalam tubuh.

Memberikan obat penurun panas
Bayi demam setelah imunisasi dapat diatasi dengan pemberian ibuprofen ataupun paracetamol. Dosis kedua obat ini biasanya bergantung pada berat badan bayi. Jadi, periksa petunjuk dosis pada kemasan atau konsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada Si Kecil.

Sebagian ibu yang khawatir bayinya demam setelah imunisasi berinisiatif memberikan paracetamol sebelum imunisasi dengan tujuan mencegah terjadinya demam. Hal ini tidak benar, ya, Bun. Pemberian paracetamol sebelum pemberian vaksin justru tidak disarankan karena dapat mengurangi efektivitas vaksin.

Kondisi Demam Setelah Imunisasi yang Patut Diwaspadai
Pada beberapa kondisi, demam setelah imunisasi memerlukan penanganan yang tepat dari dokter. Berikut adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai pada bayi demam setelah imunisasi:

Demam terjadi pada bayi berusia di bawah 3 bulan
Demam lebih dari 40°C
Demam berlangsung lebih dari 3 hari
Bayi memiliki riwayat kejang demam sebelumnya
Bayi mengalami perubahan perilaku, misalnya jadi sering mengantuk dan tidak mau menyusu.
Bila kondisi di atas terjadi pada Si Kecil, Bunda perlu memeriksakannya ke rumah sakit. Penanganan lebih lanjut perlu dilakukan agar demam tidak menyebabkan komplikasi yang membahayakan Si Kecil.

Adapun jika Si Kecil tiba-tiba mengalami kejang, Bunda dapat melakukan langkah pertolongan pertama untuk kejang demam pada bayi. Setelah itu, segera bawa ia ke dokter atau telepon ambulans ke rumah sakit.

Bayi demam setelah imunisasi merupakan hal yang normal dan umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, Bunda tetap harus memerhatikan kondisi Si Kecil setelah imunisasi. Bila ia demam, ukur suhu tubuhnya secara berkala dan awasi perilakunya.

Bila perlu, lakukan konsultasi dengan dokter sebelum melakukan imunisasi, terutama jika Si Kecil memiliki kondisi kesehatan khusus yang menyebabkan penurunan fungsi sistem imun tubuh.

Terakhir diperbarui: 13 Mei 2020
Ditinjau oleh : dr. Meva Nareza
Referensi
Carazo, P. S. Bureau, A., & De Serres, G. (2018). Post-Immunisation Fever and The Antibody Response to Measles-Containing Vaccines. Epidemiology and Infection, 146(12):1584-1592.
Ikatan Dokter Aanak Indonesia. Penjelasan Kepada Orang Tua Mengenai Imunisasi.
Central for Disease Control and Prevention (2020). Vaccine Safety - Febrile Seizures.
Central for Disease Control and Prevention. Part Two The Immunization Office Visit.
National Institute of Health (2019). U.S. National Library of Medicine MedlinePlus. When Your Baby or Infant Has a Fever.
NHS UK (2019). 6-in-1 Vaccine: Side Effects.
NHS UK (2019). Booking Your Child's Vaccination Appointment.
Victoria State Government Australia (2018). Betterhealth Channel. Immunisation - Side Effects.
Seattle Children's Hospital (2020). Immunization Reactions.
American Academy of Pediatrics, Healthy Children. Your Child's First Vaccines: What You Need to Know (VIS).
Kids Health, Nemours (2017). Dehydration.
Baby Center (2019). Immunisations: What to Expect on The Day.
Sumber : alodokter
Artikel lainnya bisa liat beranda Zaliya 😊

17/03/2021

Akhir akhir ini si kecil kalau mau tidur s**a rewel, dan kadang terbangun di tengah malam. Mas**an dan saran dari ortu atau temen juga sdh d lakukan, tapi si kecil masih rewel. Ketika browshing tentang bayi rewel, saya menemukan zaliya lenire. Saya oleskan dan pijat lembut disepanjang tulang belakang, area dada dan belakang leher sambil diberi sugesti positif. Beberap hari saya pakai, Alhamdulillah si kecil mulai nyaman dan tidak rewel lagi ketika mau tidur. Terimakasih Zaliya.😊
Bunda Lis, Karanganyar.

Info produk klik http://wa.me/6281392629955

17/03/2021

Bayi Menolak untuk Menyusu? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Menyusui adalah momen yang spesial bagi ibu dan bayinya. Saat menyusu, bayi akan mendapat asupan nutrisi dari ibu serta menjalin ikatan emosionalnya dengan ibu. Lalu, bagaimana jika tiba-tiba bayi tidak mau menyusu? Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya?

Bayi menolak menyusu sebenarnya adalah hal yang cukup umum terjadi. Ini merupakan salah satu cara bayi untuk mengatakan kepada ibunya bahwa ada hal yang mengganggu kenyamanannya ketika menyusu.

Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Menolak Menyusu
Di bawah ini akan dijelaskan mengenai hal apa saja yang dapat menyebabkan bayi enggan untuk menyusu, berikut cara mengatasinya:

1. Ibu memiliki puting datar
Tidak semua bayi bisa menyusu secara langsung pada puting ibu yang datar, khususnya untuk bayi yang baru lahir. Hal inilah yang kemudian bisa memicu bayi menolak menyusu. Untuk mengatasi hal ini, gunakanlah p***a ASI untuk menyedot puting agar lebih menonjol keluar.

2. Bunda salah posisi
Bisa saja Si Kecil enggan untuk menyusu akibat Bunda menaruhnya di posisi yang tidak membuatnya nyaman. Untuk mengatasi hal ini, tentu saja Bunda harus mengubah posisi menyusui.

3. Menurunnya volume ASI
Sedikitnya jumlah ASI yang diisap oleh Si Kecil bisa membuatnya frustasi dan enggan untuk menyusu. Untuk meningkatkan volume ASI, Bunda disarankan mencukupi asupan cairan dan mengonsumsi makanan bergizi. Bila perlu, konsumsilah suplemen penambah ASI dan susu yang diperuntukkan khusus bagi ibu menyusui.

4. Bayi akan tumbuh gigi
Umumnya, bayi mulai tumbuh gigi di usia 6-12 bulan. Saat giginya mau tumbuh, Si Kecil akan merasakan gusinya tidak nyaman. Hal inilah yang kemudian bisa menyebabkan ia menolak untuk menyusu.

Rasa tidak nyaman yang dialami Si Kecil akibat tumbuh gigi bisa diatasi dengan cara mengusap gusinya dengan handuk dingin atau jari Bunda sebelum menyusui. Jika bayi menggigit payudara Bunda saat menyusu, cobalah untuk tetap tenang dan letakkan jari di mulut Si Kecil untuk menghentikannya menggigit payudara.

5. Bayi mengalami pilek
Pilek dan hidung tersumbat bisa menyebabkan Si Kecil sulit bernapas ketika menyusu, dan akhirnya jadi enggan untuk menyusu.

Bunda disarankan untuk tetap menyusui Si Kecil secara perlahan, mengelap ingusnya dengan waslap lembut, dan memastikan Si Kecil mendapatkan istirahat yang cukup agar cepat sembuh.

6. Bayi mengalami sariawan atau infeksi telinga
Sariawan dan infeksi telinga adalah dua hal yang juga dapat menyebabkan bayi menolak untuk menyusu, meskipun jarang terjadi.

Infeksi telinga pada bayi ditandai dengan demam tinggi, bayi sering menggosok atau menarik telinganya, tubuh bayi terlihat mudah lelah, dan ia tidak bereaksi ketika mendengar suara.

Bunda bisa membantu meredakan rasa sakit pada mulut Si Kecil akibat sariawan dengan cara mengompres sariawan menggunakan es batu yang telah dibungkus kain. Sedangkan untuk meredakan infeksi telinganya, Bunda bisa mengeluarkan kotoran yang ada di telinga Si Kecil secara hati-hati menggunakan kapas.

Selain beberapa penyebab di atas, bayi sulit menyusu juga bisa disebabkan oleh kelainan lidah yang disebut ­tongue-tie. Jika Si Kecil tetap menolak untuk menyusu meski Bunda sudah melakukan cara-cara di atas, apalagi jika jumlah urinenya sudah semakin sedikit, Bunda disarankan untuk segera memeriksakannya ke dokter anak atau konsultan laktasi.

Terakhir diperbarui: 11 Desember 2019
Ditinjau oleh : dr. Merry Dame Cristy Pane
Referensi
Healthy Children (2019). Baby’s First Food: 7 Facts Parents Should Know.
Joseph, E. P. B. Kids Health (2015). Breastfeeding FAQs: Supply and Demand.
Hoecker, J. L. Mayo Clinic (2018). Why Would A Baby Go on a Breast-Feeding Strike?
Baby Center (2018). When Your Baby Won’t Breastfeed.
Young, P. Baby Center (2019). Safe Home Remedies For Your Child’s Cough, Cold, or Flu.
Better Health Channel (2019). Department of Health & Human Services, State Government of Victoria, Australia.
Perlstein, D. Medscape (2019). Teething Facts.
NHS Choices UK (2018). Health A-Z. Ear Infections.
Pats, A . Parents (2009). Why Is My Baby Refusing to Breastfeed?.
Pats, A . Parents. Cold Sores vs Canker Sores: How to Get Rid of Mouth Sores.
Murray, D. Very Well Family (2019). Breastfeeding When You or Your Baby Are Sick.
Murray, D. Very Well Family (2019). When Your Baby Won’t Breastfeed.
Brennan, D. WebMD (2018). Your Baby and the Flu: FAQ.
Greenlaw, E. WebMD (2015). 5 Ways To Treat Your Baby’s Stuffy Nose.
Sumber : alodokter

13/03/2021

Pertolongan pertama mengeluarkan benda asing di hidung anak..

By. Zaliya essential oil

12/03/2021

Jangan Panik, Lakukan ini Saat Anak Kemas**an Benda Asing di Hidung

Rasa keingintahuan yang tinggi bisa membuat anak-anak memasukkan berbagai benda ke hidung, mulai dari gumpalan kertas hingga kerikil. Benda asing di hidung bisa berbahaya bila masuk ke saluran pernapasan bawah atau menyebabkan infeksi. Oleh karena itu, hal ini perlu segera diatasi.

Benda asing di hidung yang sering ditemukan antara lain penghapus, manik-manik, kacang-kacangan, plastisin, dan peniti. Masuknya benda-benda ini pada hidung anak tidak bisa disepelekan. Pasalnya, benda tersebut bisa saja terhirup lebih dalam atau terdorong tangan anak ketika ia berusaha mengeluarkannya.

Bila masuk ke saluran pernapasan bagian bawah, benda asing bisa menghambat masuknya udara ke paru-paru dan ini bisa berakibat fatal. Selain itu, benda asing di hidung juga bisa saja merupakan sumber bakteri penyebab penyakit yang berbahaya, misalnya difteri.

Kenali Tanda-Tanda Adanya Benda Asing di Hidung Anak
Kasus benda asing di hidung bisa saja tidak membahayakan bila benda tersebut dapat keluar dengan mudah, baik melalui hidung maupun mulut. Namun, tak jarang p**a kasus ini membahayakan kesehatan anak sehingga perlu ditangani dengan cepat. Untuk itu, Anda perlu mengenali tanda-tandanya.

Tanda-tanda hidung anak kemasukkan benda asing adalah:

Gelisah atau menangis dan mengeluhkan hidungnya sakit
Sulit bernapas lewat hidung
Keluar suara seperti bersiul saat anak menarik napas, meski ia tidak sedang pilek
Keluar ingus berwarna bening, abu-abu, atau bercampur darah, dan bisa berbau busuk jika terjadi infeksi
Mimisan

Pertolongan Pertama untuk Mengeluarkan Benda Asing di Hidung Anak
Sebelum membawa Si Kecil ke dokter, Anda bisa melakukan pertolongan pertama di rumah. Caranya adalah sebagai berikut:

1. Tetap tenang
Hal pertama yang harus Anda lakukan saat mendapati adanya benda asing di hidung Si Kecil adalah jangan panik. Bila Anda terlihat panik, Si Kecil bisa menjadi takut dan tambah menangis. Ini bisa berbahaya, karena menangis dapat meningkatkan risiko benda asing terhirup lebih dalam dan masuk ke saluran pernapasan atas.

Usahakan Si Kecil tenang dan tidak menangis sebelum Anda mencoba melakukan apa pun. Jelaskan kepadanya bahwa Anda akan mencoba mengeluarkan benda asing di hidungnya.

2. Minta anak mendengus
Jika Si Kecil sudah tenang, minta ia untuk mendengus atau mengembuskan napas kuat-kuat lewat hidung. Bila benda asing di hidung tidak juga keluar, barulah Anda coba untuk mengeluarkannya. Namun, jangan mencungkil atau mencomotnya dengan jari karena benda asing tersebut bisa terdorong semakin dalam hingga jatuh ke saluran pernapasan bawah.

3. Keluarkan dengan pinset kecil
Untuk mempermudah Anda mengeluarkan benda asing di hidung Si Kecil, mintalah ia untuk bernapas melalui mulutnya dan gunakan pinset kecil yang bisa masuk ke lubang hidung Si Kecil. Masukkan pinset ke dalam lubang hidung secara hati-hati agar tidak menyenggol dinding dalam hidung.

Jepit benda asing tersebut dengan pinset dan tarik keluar pelan-pelan. Namun, bila pinset tidak bisa menjepit benda asing di dalam hidung atau malah mendorongnya lebih dalam, jangan diteruskan dan segera bawa Si Kecil ke dokter.

Segera Bawa Anak ke Dokter
Jika pertolongan pertama di atas tidak berjalan lancar, benda asing perlu dikeluarkan dengan peralatan khusus yang dimiliki dokter. Oleh karena itu, Anda harus segera membawa Si Kecil ke dokter umum atau dokter spesialis THT.

Sebelum mengeluarkan benda asing dari hidung anak, dokter akan meneteskan atau menyemprotkan obat bius lokal ke dalam hidung anak. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa sakit, sehingga anak akan lebih tenang saat dokter melakukan tindakan pengeluaran benda asing di hidungnya.

Selain bius lokal, dokter mungkin juga akan memberikan obat untuk mencegah perdarahan. Setelah tindakan medis dilakukan dan benda asing sudah keluar, dokter biasanya akan meneteskan antibiotik ke dalam hidung anak untuk mencegah infeksi dan peradangan.

Benda asing di hidung anak merupakan kasus yang lumayan sering terjadi dan kadang dapat dikeluarkan sendiri. Namun, karena komplikasinya bisa berbahaya, sebisa mungkin cegah agar jangan sampai hidung Si Kecil kemas**an benda asing.

Jauhkan benda kecil dari jangkauan anak-anak dan hindari memberikan makanan berukuran kecil kepada anak yang usianya di bawah 3 tahun. Selain itu, ajari anak untuk tidak memasukkan benda kecil ke dalam hidung atau mulut karena bisa membahayakan dirinya.

Bila Anda menemukan benda asing di hidung Si Kecil, tetap tenang dan lakukan pertolongan pertama untuk mengeluarkannya. Namun, bila benda asing ternyata ada di kedua lubang hidung Si Kecil atau sudah menyebabkannya sulit untuk bernapas, segera bawa ia ke dokter agar benda asing tersebut dapat dikeluarkan secepatnya.

Terakhir diperbarui: 10 Maret 2020
Ditinjau oleh : dr. Meva Nareza
Referensi
Ng, T. T., & Nasserallah, M. (2017). The Art of Removing Nasal Foreign Bodies. Open Access Emergency Medicine: OAEM, 9, pp. 107–112.
Patil, P. M., & Anand, R. (2011). Nasal Foreign Bodies: A Review of Management Strategies and a Clinical Scenario Presentation. Craniomaxillofacial Trauma & Reconstruction, 4(1), pp. 53–58.
National Institute of Health, U. S. National Library of Medicine (2020). MedlinePlus. Foreign Body in the Nose.
Kahn, A. Healthline (2017). Foreign Body in the Nose.
Song, K. Medscape (2019). Nasal Foreign Bodies.
WebMD (2020). Nose Foreign Body Treatment
Sumber :alodokter

12/03/2021

Informasi lengkap klik http://wa.me/6281578743921
http://wa.me/6281392629955
Admin

11/03/2021

Informasi lengkap klik http://wa.me/6281578743921 http://wa.me/6281392629955

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Pati?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address

Pati